Total Tayangan Halaman

Rabu, 13 Juli 2011

Mobil Jepang Bekas

Pilih Mobil Bekas Selera Jepang

Share |

Rabu, 24 November 2010 10:12 WIB
Mau investasi aman, beli mobil Jepang. Begitu anggapan yang beredar di kalangan peminat mobil bekas. Perawatannya murah dan harga jual stabil. Apalagi mesinnya bertenaga dan tahan lama, seperti para pegulat sumo di negeri asalnya.

Incaran utama ada di kelas 1.500 cc atau lebih kecil, walau yang bermesin 1.600 cc ke atas juga tak sepi-sepi amat. Merek seperti Toyota, Honda, Mitsubishi, Suzuki, Daihatsu, Mazda, Nissan, tentu sudah akrab di telinga Anda.

Walaupun punya unggulan di masing-masing kelas, setiap merek punya karakter khas yang menjadi ciri utamanya. Istilahnya, tergantung dari ‘perguruan’ mana para pegulat sumo itu berasal.

Berikut sekilas karakter mobil Jepang yang ada di pasaran, sehingga Anda dapat pilihan tepat sesuai kebutuhan.


TOYOTA (Kuat, Konvensional, Berkualitas)
Orang bilang, beli Toyota sama dengan beli merek. Maklum, merek yang satu ini punya depresiasi harga mobkas yang relatif stabil hampir pada semua produknya. Selain itu, mesin Toyota dikenal cukup tangguh dan kuat.

Jadi bila Anda mengutamakan harga jual kembali yang bagus, cocok memilih produk Toyota. Selain itu, Toyota juga dikenal dengan range dan varian yang luas.

Ketersedian spare part-nya pun mencukupi, apalagi pada beberapa jenis mesin lama, ada kesamaan komponen dengan merek Jepang lain. Seperti tutup distributor Toyota Kijang 1.500 cc yang sama seperti Suzuki Katana 1.000 cc.

Soal performa, walau bukan menjadi karakter khas Toyota, namun ada beberapa varian yang mampu diajak ngebut. Seperti Corolla GTI atau Vios yang bisa diadu dengan Honda atau Mitsubishi. Tapi daya tahannya tergolong tangguh.

HONDA (Kencang, Irit, Canggih)
Ada pameo, kalau Honda punya kekuatan pasar lantaran huruf awal yang jadi logonya “H”, adalah abjad kedelapan. Dalam hitungan Cina, angka 8 berarti pemasukan yang tiada henti, lantaran kontur huruf yang tak terputus.

Namun lepas dari kepercayaan itu, Honda adalah mobil dengan karakter kencang dan irit. Honda selalu mengedepankan kualitas yang diterjemahkan pada keiritan mesin tanpa kehilangan performa.

Selain itu, Honda cocok buat pehobi yang suka kecepatan. Banyak sekali part aftermarket-nya, sehingga memuaskan buat para pehobi.


Dan walau tak sekuat Toyota, resale value Honda terhitung tinggi. Bahkan untuk mobil buatan tahun 2000 ke bawah, varian matik Honda dihargai lebih tinggi. Kebalikan dengan Toyota yang matiknya lebih murah daripada versi manual.

Selain itu, Honda selalu menghadirkan teknologi canggih. Sebut saja VTEC serta variable cam milik mesin K-Series seperti dipakai Honda CR-V. Dibanding rival sekelas, CR-V punya tawaran teknologi tinggi yang lebih banyak.

MITSUBISHI (Kencang, Boros, Canggih)
Merek berlambang tiga berlian ini lebih melambangkan pada kecepatan berkendara. Terbukti dari gencarnya promosi mereka di reli dunia.

Ada yang beranggapan, kalaiu beli mobil bekas Mitsubishi sama artinya dengan beli mesin kencang. Semua sedan Mitsubishi dari tahun berapa pun pasti bermesin kencang. Bahkan kadang tak enak bila dibawa pelan.


Menurutnya, jika membeli Mitsubishi, jangan banyak berharap soal keiritan bbm. Hal ini pula yang membuat durabilitas mesin dan komponen Mitsubishi relatif lebih lemah, karena lebih sering dioperasikan dengan maksimal.

Soal resale value, Mitsubishi relatif stabil, walau masih kalah kuat dibanding Toyota dan Honda.


DAIHATSU (Irit, Murah)
Sebagai produk turunan Toyota, Daihatsu bermain di pasar yang lebih marginal, yaitu mobil penumpang kecil. Kelas kemewahannya ada di bawah tiga pegulat sumo di atas, walau soal performa juga tak bisa dibilang tertinggal.

Terbukti teknologi mesin 16 katup seperti yang diterapkan pada Winner, Classy, Taruna dan Feroza cukup diterima di pasar Indonesia.

Konsentrasi Daihatsu sama dengan Suzuki yang bermain di kelas mobil penumpang yang irit bbm. Depresiasinya cenderung stabil, terutama pada varian populer seperti Taruna dan Xenia.


SUZUKI (Irit, Murah)
Mempunyai kesan kuat, irit, dan murah. Terbukti pada produknya yang ‘badak’ seperti Suzuki Katana, Carry dan Karimun yang menggunakan jenis mesin yang sama.

Namun belakangan pabrikan berlambang huruf S ini melebarkan areal ‘jajahannya’ dengan memasuki kelas sedan 1.600 cc mengandalkan Baleno.

Soal karakter, Suzuki mirip dengan Toyota, namun terbatasnya varian membuat merek ini hanya punya sedikit pilihan. Dan pada kelas sedan depresiasinya agak tinggi, sehingga harga jual kembalinya murah.


MAZDA (Kencang, Boros, Unik)
Sebenarnya Mazda adalah wajah lain dari Mitsubishi. Karakter mesinnya senang ngebut. Namun dibanding Mitsubishi, Mazda lebih banyak menawarkan fitur-fitur unik, misalnya spidometer digital pada Mazda 323 di akhir 1980-an.

Soal kekuatan mesin boleh dibilang sama dengan Toyota, namun dengan konsumsi bbm yang lebih boros. Harga spare part-nya juga relatif mahal, mengikuti Mitsubishi.

Apalagi untuk komponen unik seperti spidometer digital yang ketersediaannya sangat jarang, hingga harganya sangat mahal.


Hal ini pula yang membuat depresiasi Mazda cukup tinggi. Belum lagi ditambah image taksi, lantaran banyak sekali armada taksi yang menggunakan Mazda.

Kini, Mazda makin pede. Beberapa produk anyarnya, seperti Mazda2, Mazda3 atau Mazda6, tak kecuali CX7 dan BT50, diterima masyarakat. Tak heran, pasar mobkas Mazda bakal makin menggoda.

Nissan (Kencang, Kuat)
Sebelum Terrano lahir pada awal 1990, pamor Nissan belum begitu terdengar. Namun secara garis besar, Nissan tak beda jauh dengan Mazda. Performa mesin lumayan bagus dengan pemakaian bbm yang relatif boros.

Khusus untuk sedan, ketersedian spare part agak terbatas terutama di daerah. Sedangkan Terrano terhitung banyak tersedia, karena populasinya juga cukup besar. Soal depresiasi juga mengikuti Mazda yang cenderung tajam.

Namun dengan hadirnya Grand Livina, April 2007, kesan Nissan sebagai mobil doyan bbm, mulai terkikis. Pasar pun mulai meliriknya.

Penulis : Andri K

diambil dari: http://www.autobildindonesia.com/read/2010/11/24/1660/30/12/Pilih-Mobil-Bekas-Selera-Jepang

Tidak ada komentar: